Wah sudah lama yah semenjak post terakhir saya. Tidak terasa juga kita sudah sampai pada penghujung tahun 2007 ini. So I guess it’s a good time to make an introspection of what we’ve done so far and all of the things that happened to us in this year. Pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan Selamat Natal 2007 (bagi yang merayakan) dan Tahun Baru 2008 (bagi yang merayakan juga….). Well, post kali ini akan sedikit lebih serius dari post-post sebelumnya. Terinspirasi dari berbagai bencana alam yang menimpa tanah Indonesia pada hari-hari belakangan ini, saya akan bercerita tentang sebuah pengamatan atau bisa dibilang penelitian kecil-kecilan (lebih cocok dibilang maen-maen sih… tapi tetep serius loh) mengenai perilaku masyarakat di Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar tempat mereka tinggal dan dampaknya terhadap kehidupan anggota masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Waktu liburan Natal yang selama 2 minggu ini saya manfaatkan untuk sedikit menggunakan pikiran dan tenaga saya untuk hal-hal yang lebih berguna ketimbang hanya main-main dengan PS2, komputer, jalan-jalan ke mall-mall, dsb. (walaupun tetep sih dilakukan juga pada saat senggang
) Pengamatan ini ada yang memang sengaja saya niatkan untuk pergi dan melihat langsung di lapangan, ada pula yang secara tidak sengaja namun acapkali saya jumpai di berbagai tempat dan kesempatan.
Setelah melakukan pengamatan di lapangan selama kurang lebih dua minggu, saya melihat masih ada berbagai tindakan yang mencerminkan ketidakpedulian akan kelestarian lingkungan hidup yang dilakukan oleh berbagai pihak. Dalam melakukan pengamatan ini, saya membatasi lingkup penelitian. Namun dengan lingkup penelitian yang terbatas ini, saya merasa cukup dapat mewakili gambaran umum sikap masyarakat di daerah saya terhadap kelestarian lingkungan hidup. Adapun lingkup penelitian saya meliputi antara lain daerah sekitar tempat tinggal saya sendiri yaitu Ciputat yang terletak di Kabupaten Tangerang, serta sepanjang jalan yang saya lalui dari tempat tinggal saya menuju ke kampus yaitu Binus University.
Seperti telah disebutkan di awal tadi, selama melakukan pengamatan masih saya jumpai beberapa tindakan manusia yang kurang mencerminkan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya. Tindakan-tindakan yang banyak saya jumpai pada umumnya berupa pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini mencakup pencemaran terhadap tanah, pencemaran terhadap udara, dan pencemaran terhadap air. Salah satu bentuk nyata pencemaran-pencemaran ini yang banyak saya jumpai secara langsung oleh saya antara lain berupa asap hasil pembakaran bahan bakar pada kendaraan bermotor yang melewati ambang batas uji kelayakan emisi gas buang. Hal ini terutama banyak saya jumpai pada angkutan-angkutan umum seperti bus kota dan angkot. Gas buang yang mereka hasilkan berbeda dengan gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan-kendaraan lain. Secara visual, gas yang dihasilkan oleh angkutan-angkutan umum tersebut lebih pekat, berwarna putih atau hitam pekat. Gas atau asap tersebut memiliki aroma yang sangat menyengat dan memiliki efek yang cukup mengganggu ketika seseorang berada di dalam kepulan asap itu. Efek yang paling terasa ialah mata menjadi sangat perih seperti teriritasi dan pernapasan terganggu. Hal ini disebabkan tingginya kandungan gas-gas beracun dalam asap kendaraan bermotor tersebut seperti gas karbon monoksida, karbon dioksida, timbal, dan sebagainya. Dan kalau mau diteliti lebih jauh lagi maka akan dapat dibuktikan bahwa gas-gas emisi ini juga berperan besar dalam terjadinya efek rumah kaca yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya pemanasan global atau yang lebih sering disebut dengan global warming yang sedang menjadi bahan pembicaraan hangat berbagai negara maju dan berkembang belakangan ini.
Bentuk pencemaran kedua yang sering saya jumpai adalah pencemaran tanah dan pencemaran air yang disebabkan oleh orang-orang yang sering sekali membuang sampah secara sembarangan dan tidak pada tempat yang seharusnya. Sepertinya kebiasaan buruk yang satu ini memang sangat sulit dihilangkan dari masyarakat Indonesia. Banyak sekali saya jumpai di pinggir-pinggir jalan di mana ada lahan kosong, walaupun hanya sedikit, di situ ada tumpukan sampah yang tidak diolah dengan benar. Ketika saya melakukan pengamatan ke tempat-tempat umum seperti di pasar tradisional, saya menemukan hal yang sama atau bahkan bisa dibilang lebih parah. Sampah-sampah yang menumpuk sedemikian rupa mempunyai dampak buruk bagi lingkungan sekitar tumpukan sampah tersebut berada. Tumpukan sampah mengundang berbagai jenis hewan yang identik dengan julukan hewan pembawa penyakit atau disease carrier. Hewan-hewan tersebut antara lain, tikus, nyamuk, lalat dan sebagainya. Ketika hewan-hewan tersebut berada di dekat tempat-tempat seperti pasar atau rumah makan maka akan menimbulkan masalah pada higienitas bahan makanan yang ada di tempat-tempat tersebut. Pencemaran yang dilakukan oleh sampah yang dibuang secara serampangan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Banyak saya jumpai juga sampah berserakan di selokan-selokan dan di kali atau sungai-sungai. Sampah-sampah tersebut memiliki beberapa dampak negatif. Yang pertama tentu saja pencemaran terhadap air sungai yang juga mempengaruhi kebersihan air tanah di mana air itu sendiri merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dampak lainnya ialah terhambatnya aliran air di selokan dan sungai akibat akumulasi sampah yang tidak diolah dengan benar. Terhambatnya aliran ini memiliki dampak yang cukup membahayakan bagi lingkungan sekitar. Resiko terjadinya banjir meningkat seiring dengan datangnya musim hujan. Dan ketika banjir benar-benar terjadi, maka dampak yang dihasilkan oleh banjir ini lebih parah lagi. Pertama transportasi dan perekonomian terganggu, kedua ialah munculnya berbagai macam penyakit akibat genangan-genangan air kotor seperti penyakit kulit dan penyakit chikungunya. Sehingga dapat dikatakan bahwa sampah yang tidak diurus dan diolah dengan baik memiliki potensi untuk menyulitkan manusia sendiri pada akhirnya.
Dari berbagai peristiwa di masyarakat yang saya amati selama kurang lebih 2 minggu saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya belum semua anggota masyarakat sadar akan dampak dari sikap kurang peduli yang mereka tunjukan terhadap kelestarian lingkungan hidup. Banyak dari anggota masyarakat ini yang masih bertindak berdasarkan teori antroposentrisme di mana yang lebih dipentingkan adalah kebutuhan manusia dan kelestarian alam yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhan manusia dinomorduakan. Akibatnya ketika terjadi bencana seperti endemi penyakit berbahaya, banjir, kekeringan, tanah longsor, dan sebagainya mereka sendiri menjadi panik dan merasa dirugikan padahal hal ini bukan tidak mungkin terjadi karena ulah mereka sendiri. Sikap yang tadinya berbau antroposentrisme dan egosentrisme harus diubah sejalan dengan perkembangan jaman menjadi sikap yang berpedoman pada teori ekosentrisme dan lebih peduli pada ekologis lingkungan hidup. Dengan demikian, kita dapat mewariskan kekayaan bumi ini untuk anak cucu kita bukannya mewariskan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh ulah kita sekarang. Pemerintah diharapkan ketegasan dan kerjasamanya dengan seluruh lapisan masyarakat untuk menanggulangi masalah ini. Misalkan dengan memperketat aturan pada Undang Undang Lingkungan Hidup dan memberi sanksi tegas pada siapapun yang melanggarnya. Pemerintah juga bisa berperan serta dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan yang tujuan menyadarkan masyarakat akan betapa berbahayanya apabila kita tidak menjaga kelestarian lingkungan hidup melalui berbagai media. Penyuluhan-penyuluhan ini hendaknya juga disertai dengan tindakan nyata seperti menambah jumlah tempat-tempat pembuangan sampah, peningkatan sistem pengolahan sampah hingga mencapai tempat pembuangan sampah akhir atau TPA yang terletak jauh dari pemukiman atau tempat umum, terkadang langkah tegas seperti penertiban bangunan-bangunan yang ada di bantaran-bantaran kali juga perlu untuk dilakukan mengingat sampah rumah tangga dari bangunan-bangunan tersebut cukup memegang peranan signifikan terhadap pencemaran air sungai. Akhir kata, marilah kita lebih peduli lagi terhadap alam dan lingkungan sekitar kita. Kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, menghemat penggunaan listrik, niscaya dengan melakukan hal-hal kecil itu kita akan terbiasa untuk berperan serta melestarikan bumi ini. Sebab bumi ini bukan hanya milik saya dan anda, tetapi juga milik generasi-generasi yang akan datang.
Heal the World, make it a better place…
mau ngarang buat cb ya mas?
salah dri… ini karangan cb yang dimasukkin ke blog…